Aku terhunus tajam pedangmu
Pedang yang slalu kau asah pagi
dan petang
Lagi-lagi mengucurlah cairan anyir itu
Deras...
Dan tak dapat kuhentikan
Dan tak ada yang menghentikan
Sedang kau di sana terus
mengasah pedangmu
Dan tak tau pedangmu tlah
mengukirkan luka untukku
Aku berdiri di depan cermin. Bercermin, melihat lukaku
Cukup dalam rupanya
Dan aku hanya membersihkannya
dengan air
Entah steril atau tidak
Entah kan infeksi atau tidak
Aku hanya berusaha
menghentikan cairan anyirku
Agar aku terus dapat berdiri
Tegak, melihat, mendengar semuanya
Menyaksikan pedangmu yang terus kau sayat-sayatkan pada sebilah kayu
Untuk menguji ketajaman pedangmu
Sekarang aku terkapar lemah
Memegang kain putih berjaring dan kutempelkan ke lukaku
Seketika kain itu berubah menjadi
merah Basah...
Terus membasah...
Hingga mata perlahan terpejam
Raga terkulai lemah
Tiada daya
Di sana masih terus kau asah pedangmu
Hingga sapuan sang bayu mengeringkan lukaku
AKu bangkit
Mendekatimu... Mencoba menghentikan
aktivitasmu mengasah pedang
yang sudah tajam
Tapi sia-sia, Karna kau memilih pedangmu
untuk senjata utamamu Dan tak peduli bahwa aku pernah terluka oleh pedangmu
"Tolong, simpan pedangmu!"
Hanya itu pintaku.
Untukmu Yang Mencintaiku
sumber
http://nack-karma.indonesianforum.net